Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2018

The Ugly Duckling (Terjemahan)


Hasil gambar untuk the ugly duckling illustration rachel isadora

Pada suatu musim panas yang indah di pedesaan, seekor Ibu Itik sedang menunggu telur-telurnya menetas. Setelah beberapa lama, keluarlah anak-anak itik kecil dari telur-telur mereka, tetapi satu telur tersisa. Dengan sabar si Ibu Itik mengerami telur itu hingga akhirnya menetas. Tetapi anak itik kecil yang keluar sangatlah buruk rupa.

“Aku tidak mengerti bagaimana anakku bisa seburuk rupa ini!” Si ibu Itik berkata pada dirinya sendiri, menggelengkan kepada saat ia melihat anak bungsunya. Si Itik yang berwarna abu-abu ini memang bruuk rupa, dank arena ia makan lebih banyak dibandingkan kakak-kakaknya, ia pun lama kelamaan mulai lebih besar dari mereka. Hari-hari berlalu, dan si Itik yang buruk rupa semakin merasa tidak bahagia. Kakak-kakaknya tidak mau bermain dengannya, dia sangat kikuk dan semua binatang di pedesaan itu menertawakannya. Ia merasa sedih dan kesepian, sementara Si Ibu Itik mencoba menghiburnya,

“Ah Itik Buruk Rupa yang malang!” Ia berkata. “Mengapa kau sangat berbeda dengan yang lain?” Dan si Itik Buruk Rupa merasa lebih sedih lagi. Dia diam-diam menangis pada saat malam. Ia merasa tidak ada yang menyukainya.
 

“Tidak ada yang menyayangi aku, semua meledekku! Kenapa aku berbeda dari kakak-kakakku?”

Lalu pada suatu hari, saat matahari terbit, ia melarikan diri dari pedesaan. Ia berhenti di tepi kolam dan bertanya pada itik-itik disana, “Tahukah kalian itik lain yang punya bulu abu-abu seperti aku?” Tetapi semuanya menggelengkan kepala sambil mencibir.

“Kami tidak kenal satupun yang sejelek kamu.” Si Itik tidak kehilangan semangat, dan terus bertanya-tanya. Ia pergi ke kolam yang lain dan bertanya pada itik yang lain. Tetapi semua memberikan jawaban yang sama. Ia terus berpindah-pindah, sampai seorang wanita tua yang penglihatannya sudah kabur menangkapnya karena menyangka ia seekor angsa betina. Wanita itu menaruhnya di kandang dengan harapan ia akan bertelur. Ayam-ayam yang juga ada di kandang itu pun menakut-nakutinya,

“Tunggu saja! Kalau kau tidak bertelur, wanita tua itu akan memotongmu dan memasakmu!” Si Itik mulai ketakutan dan pada malam hari pun ia melarikan diri. Sekali lagi, ia sendirian. Ia berlari sejauh mungkin, dan pada pagi hari ia pun bersembunyi dibalik alang-alang. “Jika tidak ada yang suka padaku, aku akan bersembunyi disini selamanya.” Disana banyak makanan, dan si Itik mulai merasa sedikit berbahagia, walaupun ia kesepian. Pada suatu pagi ia melihat sekumpulan unggas yang cantik terbang diatasnya. Putih, dengan leher yang panjang, paruh berwarna kuning dan sayap yang lebar, mereka sedang terbang ke selatan.

“Seandainya aku bisa seperti mereka, sehari saja!” Kata si Itik dengan penuh kekaguman. Musim dingin datang dan air di atas alang-alang membeku. Si Itik meninggalkan tempatnya untuk mencari makanan di tengah salju. Ia jatuh pingsan, tetapi seorang petani menemukannya dan menaruhnya di saku jaketnya yang besar. Ia membawa si Itik pulang ke anak-anaknya supaya mereka bisa merawat si Itik yang kedinginan. Si Itik dirawat dengan baik di rumah petani sehingga ia bisa bertahan musim dingin yang menggigit.

Pada musim dingin, ia bertumbuh sangat besar sehingga si Petani memutuskan untuk melepasnya di kolam. Saat itulah si Itik melihat bayangan dirinya sendiri terpantul di air yang jernih. “Astaga! Aku sudah berubah sekali! Aku hampir tidak mengenali diriku!” Kumpulan angsa kembali ke utara dan turun ke kolam. Ketika si Itik melihat mereka, ia menyadari ia sama dengan angsa-angsa yang cantik itu dan dengan segera berteman dengan mereka.
 

“Kami juga angsa seperti kamu. Kamu bersembunyi dimana selama ini?” Tanya mereka dengan hangat. “Ceritanya panjang,” Kata si Angsa Muda ini, masih terkejut dengan perubahannya. Sekarang ia berenang dengan indahnya bersama angsa-angsa lain. Suatu hari, ia mendengar anak-anak kecil di tepi sungai berkata, “Lihatlah angsa muda itu! Ia yang terbagus dari semuanya!”

Dan ia pun menjadi bahagia sejak saat itu.

The Ugly Duckling (English)


Hasil gambar untuk the ugly duckling illustration


It is a beautiful summer day. The sun shines warmly on an old house near a river. Behind the house a mother duck is sitting on ten eggs. "Tchick." One by one all the eggs break open. All except one. This one is the biggest egg of all.

Mother duck sits and sits on the big egg. At last it breaks open, "Tchick, tchick!"

Out jumps the last baby duck. It looks big and strong. It is grey and ugly.

The next day mother duck takes all her little ducks to the river. She jumps into it. All her baby ducks jump in. The big ugly duckling jumps in too. They all swim and play together. The ugly duckling swims better than all the other ducklings.
- Quack, quack! Come with me to the farm yard! - says mother duck to her baby ducks and they all follow her there.
The ugly duckling
The farm yard is very noisy. The poor duckling is so unhappy there. The hens peck him, the rooster flies at him, the ducks bite him, the farmer kicks him.

At last one day he runs away. He comes to a river. He sees many beautiful big birds swimming there. Their feathers are so white, their necks so long, their wings so pretty. The little duckling looks and looks at them. He wants to be with them. He wants to stay and watch them. He knows they are swans. Oh, how he wants to be beautiful like them.

Now it is winter. Everything is white with snow. The river is covered with ice. The ugly duckling is very cold and unhappy.

Spring comes once again. The sun shines warmly. Everything is fresh and green.

One morning the ugly duckling sees the beautiful swans again. He knows them. He wants so much to swim with them in the river. But he is afraid of them. He wants to die. So he runs into the river. He looks into the water. There in the water he sees a beautiful swan. It is he! He is no more an ugly duckling. He is a beautiful white swan.

Label